Genetika Kebahagiaan
set-point dopamin yang berbeda pada setiap orang
Pernahkah kita memperhatikan teman di tongkrongan yang sepertinya selalu ceria? Padahal, kita tahu secara pasti bahwa hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain, mungkin kita juga punya teman yang hidupnya nyaris sempurna—karier bagus, tabungan aman, pasangan suportif—tapi ia selalu terlihat murung dan lelah. Atau jangan-jangan, teman-teman justru merasa sedang berada di posisi si murung tersebut. Kadang kita bertanya-tanya dalam hati, apakah kebahagiaan itu semacam undian nasib? Mengapa ada orang yang default-nya terlihat selalu bahagia, sementara yang lain harus bersusah payah hanya untuk sekadar tersenyum tulus di pagi hari? Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa banyak uang di rekening kita. Ini tentang sebuah warisan tak kasat mata yang tersembunyi jauh di dalam tubuh kita.
Mari kita mundur sejenak ke tahun 1970-an. Saat itu, para psikolog menemukan fenomena yang cukup membuat garuk-garuk kepala. Mereka mengamati kelompok orang yang baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah, lalu membandingkannya dengan orang-orang yang baru saja mengalami kecelakaan fatal hingga lumpuh. Tebak apa yang terjadi? Enam bulan kemudian, tingkat kebahagiaan kedua kelompok ini perlahan kembali ke titik awal mereka sebelum kejadian dramatis tersebut terjadi. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai hedonic treadmill. Bayangkan kita sedang berlari di treadmill. Secepat apa pun kita berlari mengejar pencapaian—promosi jabatan, mobil baru, atau liburan mewah—kita tetap berada di tempat yang sama secara emosional. Tubuh kita seolah punya sebuah "termostat" kebahagiaan. Jika suhunya terlalu panas karena euforia, ia otomatis akan diturunkan. Jika terlalu dingin karena duka, ia akan dihangatkan kembali. Tapi yang menjadi pertanyaan besar, siapa yang menyetel suhu awal termostat tersebut? Mengapa "suhu normal" saya dan teman-teman bisa sangat berbeda?
Untuk menjawab misteri termostat tersebut, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Teman-teman pasti sudah tidak asing dengan istilah dopamine. Zat kimia otak ini sering diklaim oleh banyak artikel kesehatan sebagai "hormon kebahagiaan". Padahal, sains modern mendefinisikannya lebih sebagai molekul pencarian dan motivasi. Saat kita makan enak atau mendapat likes di media sosial, otak melepaskan dopamin. Kita merasa senang, lalu menginginkannya lagi. Namun, ada satu rahasia besar tentang sistem dopamin yang jarang dibicarakan. Otak kita tidak memproduksi zat ini dari nol setiap hari. Ada semacam tangki penyimpanan dengan batas minimum yang selalu dijaga oleh tubuh. Batas minimum inilah yang membuat kita tetap punya energi untuk bangun dari tempat tidur setiap pagi. Namun, apa yang terjadi jika desain ukuran tangki dopamin kita sejak awal memang berbeda dari orang lain? Bagaimana jika cetak biru yang membentuk tangki tersebut membuat isinya lebih cepat bocor, atau justru sangat sulit terisi penuh?
Di sinilah sains memberikan jawaban yang mungkin terdengar sedikit mematahkan hati, tapi sekaligus sangat membebaskan. Rahasia di balik bedanya termostat kebahagiaan kita adalah genetika. Ya, para ahli biologi evolusioner dan genetika menemukan bahwa kita semua lahir dengan dopamine set-point atau titik tumpu dopamin dasar yang berbeda-beda. Ini adalah warisan murni dari DNA leluhur kita. Ada variasi gen tertentu—seperti variasi pada gen reseptor dopamin DRD4—yang menentukan seberapa efisien otak kita memproses dan menyerap zat kimia bahagia ini. Beberapa orang dianugerahi gen yang membuat otak mereka sangat hemat dan efisien mengelola dopamin. Mereka adalah orang-orang yang secara alami bangun pagi dengan perasaan optimis tanpa alasan. Di sisi lain, banyak dari kita yang mewarisi sistem pengolahan dopamin yang lebih boros. Kita butuh usaha ekstra dan pemicu yang lebih besar hanya untuk merasa "oke". Penelitian modern bahkan menyimpulkan sebuah fakta keras: sekitar 50 persen dari kapasitas kebahagiaan kita sudah ditentukan oleh gen sejak kita menghirup napas pertama. Gen kita adalah arsitek yang menentukan di angka berapa termostat emosi kita terkunci secara alami.
Mendengar fakta bahwa setengah dari kebahagiaan kita dikendalikan oleh tumpukan DNA mungkin membuat kita merasa kalah sebelum bertanding. Tapi, mari kita lihat ini dari sudut pandang yang lebih welas asih. Fakta ilmiah ini seharusnya membuat kita berhenti menghakimi diri sendiri. Jika selama ini teman-teman merasa sudah melakukan segalanya—rutin olahraga, meditasi, membaca buku self-help—tapi masih sering merasa burnout atau hampa, ketahuilah bahwa itu bukan karena kita gagal sebagai manusia. Kita hanya sedang bermain dengan kartu genetik yang kebetulan sedikit lebih menantang. Lagipula, matematika kebahagiaan ini masih menyisakan 50 persen sisanya. Bagian sisa inilah yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita melalui gaya hidup, cara kita merespons masalah, dan lingkungan yang kita bangun. Kita mungkin tidak bisa membongkar dopamine set-point bawaan pabrik kita. Tapi, kita selalu bisa belajar mengenali batas cairan tangki kita sendiri. Kita bisa berhenti membandingkan level kebahagiaan kita dengan orang lain yang mesin genetiknya jelas berbeda. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memaksa diri menjadi orang yang paling ceria di ruangan. Kebahagiaan adalah seni berdamai dengan termostat kita sendiri, merawatnya dengan penuh empati, dan memastikan ia tidak kehabisan daya di tengah jalan.